Inti Sari Buku Seni Berkotbah dan Public Speaking


Hubungan Antara Khotbah dengan Percakapan Sosial (Public Speaking) (Halaman 19 sampai dengan 24)
Kata istilah : public atau "publik" berasal dari kata bahasa Latin: publicum yang berarti: milik negara, kas negara atau perbendaharaan negara, khalayak ramai, umum.Istilah yang sepadan adalah: publicus yang berarti:urusan negara,semua warga negara,rakyat,umum, semua orang.Dengan keterangan itu,dapat disimpulkan bahwa istilah: "publik" itu berarti suatu kelompok atau sejumlah orang (sedikit atau banyak) yang berkumpul dengan satu tujuan tertentu.

Istilah Public Speaking berarti: percakapan sosial.Sedangkan tujuannya adalah: membagi pikiran,ide,pendapat kepada orang lain atau kelompok.Sementara orang menyebut hal ini sebagai "pidato",tetapi sebenarnya berbeda.Dalam beberapa hal pidato lebih mudah daripada percakapan sosial.Hal itu karena dalam pidato orang harus mampu dalam penguasaan tujuan dan arah pembicaraan telah dipersiapkan terlebih dahulu.Namun secara umum, Public Speaking tidak jauh berbeda dengan percakapan-percakapan yang lain.

Berbicara tentang public speaking, menurut Alexander Hamilton, apabila orang mengininkan keberhasilan, harus memerhatikan 5 kunci sukses public speaking yakni:

  • Ketenangan dan Kepercayaan Diri
  • Biasanya orang yang baru pertama kali berbicara di muka umum akan diliputi oleh "demam panggung".Hal ini juga dapat disebut dengan "penyakit bandul jam" yang terdapat dalam jantung atau dada pembicara.Hal ini diakui oleh pakar pembicara atau orator, misalnya: Winston Churchil,Alai Stevenson, dan John F. Kennedy. Mereka terus terang diserang kegugupan dan ketakutan saat berhadapan dengan para pendengar.Dapat diredam apabila pembicara menguatkan diri dan menaklukkan kekakuan dengan mengatur pernapasan.Dapat juga melalui cara: mengenali pendengar dengan baik,latihan,berusaha santai/relaksasi,sikap tenang dan percaya diri dan menciptakan kontak mata.Apabila berhasil,kegugupan berubah menjadi nyala api yang membakar semangat dan antusiasme untuk berbicara dalam berpidato.

  • Kepekaan atas Audiens (Pendengar) dan Kesempatan
  • Apabila kita diundang secara mendadak untuk menjadi pembicara,kita sebaiknya mengenali kepekaan pendengar dalam menanggapi topik yang kita bicarakan.Berapa kira-kira jumlah mereka yang menanggapi topik pembicaraan kita,berapa orang yang hadir dan merasa terhibur dengan mengangguk-angguk tanda setuju atau tepuk tangan.Itulah sebabnya kata-kata pendahuluan dengan ilustrasi atau anekdot atau lelucon secara umum itu penting sekali.

  • Pemilihan Materi Pembicaraan
  • Pemilihan materi pembicaraan harus selektif.Artinya topik yang kita pilih harus sesuai dengan permintaan.Itulah sebabnya dibutuhkan pengetahuan yang cukup luas.Dalam kita memilih topik,sebaiknya pokok pembicaraan itu sesuai dengan pendengar,dapat menggugah minat,menarik,dan leluasa dipaparkan.

  • Kepekaan atas Tujuan Pembicaraan
  • Berbicara tanpa tujuan bagaikan tubuh tanpa tulang(Jawa: wayang tanpa gapit).Sedangkan tujuan umum pidato antara lain: menjelaskan proses,memberi informasi,meyakinkan para pendengar,merangsang semangat dan menghibur para pendengar.Selain itu,kita harus merumuskan tujuan khusus pidato kita dengan jelas,singkat,tepat,dan padat.

  • Penyajian
  • Adapun apabila seseorang berbicara tanpa tujuan dapat dikatakan bagaikan tubuh tanpa tulang punggung.Tujuan dalam percakapan itu dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan dalam rangka Public Speaking.Oleh sebab itu,berbicara dalam kaitannya dengan Public Speaking akan tercapai sesuai tujuan apabila pembicaraan itu:
    1. Menjelaskan proses,metode,dan teori.
    2. Memberi informasi kepada para pendengar mengenai peristiwa,orang,kebijaksanaan atau lembaga.
    3. Meyakinkan pendengar akan kebenaran mengenai:kesalahan atau gagasan,kebijaksanaan atau sudut pandang.
    4. Merangsang semangat pendengar untuk bertindak.
    5. Menghibur pendengar,mungkin dengan humor atau cara yang menarik.

Comments

Popular posts from this blog

Bagian 39 - Kebiasaan Anak-Anak -130 Ilustrasi Rohani

Bagian 12 - Tumbuhan Seusai Hujan - 130 Ilustrasi Rohani

Bagian 25 - Anak Yang Manis - 130 Ilustrasi Rohani